img 7833

Digitalisasi Sistem Dinilai Sebagai Langkah Paling Taktis Urai Kemacetan Depo Kontainer

JAKARTA – Langkah cepat Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (DPP ASDEKI) dalam merumuskan solusi atas kemacetan parah di kawasan logistik Cakung, Cilincing, dan Marunda mendapat perhatian luas dari para pelaku industri. Dari berbagai evaluasi yang mencuat, percepatan digitalisasi di lingkup internal depo dinilai sebagai langkah yang paling taktis dan siap dieksekusi.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP ASDEKI, Mustofa Kamal Hamka, menjabarkan bahwa lonjakan Yard Occupancy Ratio (YOR) di atas 80 persen mayoritas dipicu oleh faktor eksternal. Kendala tersebut mencakup ketidakseimbangan arus ekspor-impor, dampak penerapan Terminal Booking System (TBS) di pelabuhan, hingga proyek infrastruktur yang menghambat akses jalan.

Kendati penyelesaian masalah eksternal mutlak diperlukan, penyelarasan operasional dari dalam depo tidak kalah krusial. Dalam hal ini, gagasan Sekretaris Jenderal DPP ASDEKI, Surya Dharma Syahputra, yang memprioritaskan program digitalisasi pelayanan depo sebagai poin pertama solusi jangka pendek, menjadi pendekatan operasional yang sangat rasional. Pembenahan sistem internal dinilai dapat langsung memangkas bottleneck tanpa harus menunggu perubahan regulasi dari pihak luar.

Implementasi digitalisasi ini bukanlah wacana baru di lingkungan industri depo. Praktik efisiensi melalui teknologi telah dibuktikan secara nyata oleh AIMS Group, perusahaan yang berada di bawah kepemimpinan Surya Dharma. Dalam operasionalnya, AIMS Group telah mengadopsi Depot Management System (DMS) guna memodernisasi alur kerja di lapangan.

Pemanfaatan sistem digital terintegrasi tersebut terbukti mampu menekan waktu tunggu armada di gerbang depo. Proses birokrasi konvensional, mulai dari akomodasi Delivery Order (D/O), sistem pembayaran, hingga penerbitan gate pass, dapat dilakukan secara daring dan terpusat. Akibatnya, perputaran truk menjadi jauh lebih terukur dan tidak memicu antrean panjang yang berujung pada kemacetan di jalan raya.

Keberhasilan implementasi teknologi di internal anggota asosiasi ini diharapkan dapat menjadi cetak biru (blueprint) bagi depo-depo lain yang tengah menghadapi masalah serupa. Adopsi sistem mandiri ini selaras dengan tren efisiensi yang tengah didorong oleh penyedia teknologi, sebagaimana diulas mengenai bagaimana elogi menawarkan optimalisasi operasional depo kontainer melalui DMS.

Kolaborasi lintas sektor antara ASDEKI, Pelindo, dan pemerintah daerah tentu harus terus berjalan sebagai agenda jangka panjang. Namun, untuk mengurai kemacetan saat ini, perluasan adopsi sistem manajemen depo berbasis digital adalah solusi riil yang sudah teruji dan siap diimplementasikan demi kelancaran logistik nasional.

Share this content:

More Reading

Post navigation

Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *