SURABAYA — Arus petikemas di Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terus menunjukkan tren pertumbuhan positif hingga pertengahan tahun ini. Peningkatan volume bongkar muat ini terjadi akibat melonjaknya aktivitas ekspor dan impor di wilayah Jawa Timur dan Indonesia Timur. Oleh karena itu, pengelola pelabuhan berupaya keras menjaga efisiensi kinerja operasional di lini dermaga. Akibatnya, operator depo kontainer lini darat juga harus segera meningkatkan kecepatan layanan agar mampu menampung derasnya arus barang tanpa hambatan.
Lonjakan Arus Barang Menguji Kapasitas Lini Darat
Pertumbuhan volume peti kemas di dermaga pelabuhan memberikan dampak langsung terhadap kapasitas fasilitas penyimpanan darat (inland depot). Selain itu, arus barang yang datang secara bersamaan sering kali memicu penumpukan antrean truk di gerbang depo kontainer. Sebagai hasilnya, perusahaan forwarder harus menanggung risiko pembengkakan biaya waktu tunggu armada di lapangan.
Sementara itu, banyak fasilitas depo di sekitar kawasan pelabuhan masih mengandalkan sistem pencatatan manual yang lambat. Selanjutnya, petugas loket membutuhkan waktu lama untuk mencocokkan nomor peti kemas dan dokumen pengeluaran barang. Dengan demikian, percepatan bongkar muat di dermaga pelabuhan menjadi kurang maksimal akibat leher botol di depo lini darat.
Perbandingan Efisiensi Penanganan Arus Kontainer
Pelaku usaha maritim perlu memahami pentingnya penyelarasan kecepatan antara terminal pelabuhan dan fasilitas depo penyangga. Di sisi lain, perbandingan alur kerja memperlihatkan perbedaan signifikan dalam menangani peningkatan volume kargo. Berikut adalah tabel perbandingan penanganan arus kontainer di lapangan:
| Parameter Operasional | Depo Konvensional (Manual) | Depo Digital Terintegrasi |
|---|---|---|
| Kecepatan Gate In / Out | 15 hingga 30 menit per truk | 1 hingga 3 menit per truk |
| Kapasitas Tampung Kontainer | Rentan macet saat volume melonjak | Optimal dan teratur secara otomatis |
| Koordinasi Data EMKL | Telepon & pesan singkat (Lambat) | Dashboard cloud real-time |
| Risiko Demurrage & Inap | Tinggi akibat keterlambatan info | Sangat rendah berkat notifikasi presisi |
| Produktivitas Armada Truk | 1 hingga 2 ritase per hari | 3 hingga 5 ritase per hari |
Integrasi Digital Mencegah Antrean Rantai Pasok
Lonjakan arus kargo di TPS membutuhkan ekosistem penyangga yang bekerja sama cepatnya dengan mesin derek pelabuhan. Oleh karena itu, pengelola depo swasta wajib segera mengadopsi sistem manajemen depo kontainer guna memangkas waktu pelayanan di gerbang. Teknologi pintar ini memampukan operator depo mengatur letak tumpukan kontainer dan mempercepat alur armada secara otomatis.
Selanjutnya, perusahaan Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) juga membutuhkan keterbukaan data saat melakukan pengelolaan transaksi depo kontainer setiap harinya. Platform terintegrasi memungkinkan forwarder memesan jadwal bongkar muat dan mengurus dokumen administrasi secara instan tanpa birokrasi rumit. Sebagai hasilnya, pertumbuhan volume petikemas di pelabuhan dapat sejalan dengan efisiensi distribusi di lini darat.
Menjaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi Maritim
Tren pertumbuhan arus barang maritim harus mendapatkan dukungan penuh dari seluruh pelaku rantai pasok nasional. Sebaliknya, keengganan beradaptasi dengan teknologi digital justru akan menimbulkan kemacetan baru di luar area pelabuhan. Oleh sebab itu, integrasi antara pelabuhan modern dan platform digital B2B merupakan kunci utama menjaga efisiensi logistik Jawa Timur.
Daftar Sumber & Referensi (E-E-A-T):
- Arus Petikemas di TPS Terus Bertumbuh, Ocean Week (2026).
- Laporan Kinerja Operasional Bongkar Muat Terminal Petikemas Surabaya (TPS), PT Pelindo Terminal Petikemas.
- Kajian Sinkronisasi Pelabuhan dan Depo Kontainer Jawa Timur, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA).
Share this content:




Leave a Comment