img 7875

ALFI Ingatkan Kemacetan Depo Empty Ancam Pelabuhan Priok Stagnasi, Ini Solusinya!

Kemacetan parah di depo empty kontainer membuat YOR melampaui 80% dan mengancam sirkulasi Pelabuhan Tanjung Priok. Bagaimana solusi digital mengatasinya?

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) baru-baru ini menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait fenomena kemacetan depo empty (kontainer kosong) yang kian parah di sekitar luar area Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Jika antrean panjang penerimaan dan pengambilan peti kemas kosong di sejumlah fasilitas depo ini tidak segera dicarikan solusi konkret, sirkulasi arus barang di pelabuhan tersibuk di Indonesia tersebut terancam mengalami stagnasi layanan.

Bagaimana sebenarnya kondisi kritis yang sedang terjadi di lapangan, apa pemicu utamanya, dan bagaimana langkah adaptasi serta solusi teknologi digital mampu mengurai benang kusut logistik ini? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Kondisi Kritis: YOR Depo Empty Melonjak Melampaui 80%

Ketua Umum ALFI DKI Jakarta, Adil Karim, mengungkapkan bahwa mayoritas depo kontainer kosong (empty container depot) di wilayah Jakarta yang menjadi penyangga utama layanan Pelabuhan Tanjung Priok tengah menghadapi situasi sangat kritis.

Saat ini, tingkat keterisian lahan atau Yard Occupancy Ratio (YOR) di berbagai depo empty rata-rata telah melonjak drastis di atas 80%, bahkan beberapa fasilitas depo tercatat mengalami overcapacity hingga melampaui 100%.

Apa Penyebab Utama Penumpukan Kontainer Kosong?

Ada beberapa faktor krusial yang memicu kepadatan ekstrem ini, di antaranya:

1. Ketidakseimbangan Neraca Ekspor-Impor: Tingginya volume kegiatan impor barang ke Indonesia saat ini tidak sebanding dengan aktivitas ekspor. Akibatnya, pengosongan lahan depo menjadi sangat lambat karena kontainer kosong menumpuk dan tidak segera terpakai untuk muatan ekspor.

2. Hambatan Sirkulasi Receiving & Delivery (R/D): Kondisi krodit di luar pelabuhan berdampak langsung pada kelancaran arus keluar-masuk barang di terminal peti kemas. Beberapa terminal di Priok dilaporkan mulai mengalami kepadatan akibat ketimpangan sirkulasi R/D.

Dampak Nyata: Sopir Truk Kelelahan dan Ritase Anjlok

Dampak dari kemacetan depo empty tidak hanya dirasakan oleh pengelola pelabuhan, tetapi juga memukul sektor transportasi darat (trucking).

Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) DKI Jakarta, Dharmawan Witanto, menegaskan bahwa proses pengembalian kontainer eks-impor maupun pengambilan kontainer untuk kebutuhan ekspor kini memakan waktu berhari-hari. Tak jarang, armada truk harus antre lebih dari dua hari di depo hanya untuk satu kali layanan.

Kondisi ini menimbulkan kerugian besar bagi ekosistem logistik:

 Risiko Keselamatan: Sopir truk mengalami kelelahan ekstrem akibat antrean berjam-jam di jalan raya, yang berpotensi meningkatkan angka kecelakaan lalu lintas.

 Penurunan Produktivitas (Ritase): Utilitas armada anjlok drastis. Dalam kondisi normal, truk dapat melakukan beberapa kali perjalanan, namun kini rata-rata truk hanya mampu beroperasi dua ritase dalam seminggu.

 Lonjakan Biaya Logistik (Cost Logistics): Waktu tunggu (waiting time) yang membengkak memicu biaya operasional tambahan hingga denda keterlambatan (demurrage/detention).

Solusi Jangka Pendek dan Strategi Jangka Panjang

Sebagai langkah darurat (jangka pendek), pihak KSOP Tanjung Priok telah mengeluarkan diskresi untuk mengalihkan sementara sebagian kegiatan bongkar muat kapal kontainer dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat—dengan catatan fasilitas di Patimban siap melayani peti kemas tersebut.

Namun, ALFI menekankan bahwa Pemerintah melalui Kementerian dan Lembaga (K/L) terkait harus segera merumuskan solusi jangka panjang. Salah satu usulan strategisnya adalah membangun dan mendekatkan fasilitas depo empty ke wilayah hinterland atau pusat kawasan industri yang saat ini dominan berada di wilayah Jawa Barat.

Transformasi Digital: Kunci Utama Mengurai Kemacetan Depo dan Pelabuhan

Selain penataan infrastruktur fisik, akar masalah dari antrean panjang di depo kontainer adalah lemahnya visibilitas dan sistem manajemen operasional yang masih konvensional. Untuk mencegah pelabuhan mengalami stagnasi, pelaku industri logistik, pengelola depo, hingga Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) wajib beralih ke integrasi sistem digital.

Berikut adalah dua solusi teknologi modern yang menjadi jawaban atas permasalahan kemacetan depo empty saat ini:

1. Digitalisasi Operasional Depo dengan DMS

Pengelola depo kontainer tidak bisa lagi mengandalkan pencatatan manual atau sistem yang lambat. Diperlukan optimalisasi tata letak (yard planning), kecepatan gate-in / gate-out, serta monitoring YOR secara real-time.

Untuk meningkatkan efisiensi proses pelabuhan dan mencegah penumpukan, pengelola fasilitas penumpukan dapat menerapkan sistem manajemen kontainer di depo berbasis cloud dari eLOGI Depo Management System (DMS). Sistem ini terbukti mampu mempercepat sirkulasi penataan peti kemas dan memangkas waktu antrean truk secara signifikan.

2. Transparansi Jadwal dan Pelacakan untuk EMKL & Trucking

Bagi perusahaan EMKL, freight forwarder, dan pengusaha truk, kepastian jadwal pengambilan atau pengembalian kontainer adalah kunci efisiensi ritase. Tanpa sistem reservasi yang jelas, truk akan datang bersamaan dan menumpuk di gerbang depo.

Maka dari itu, integrasi teknologi untuk layanan booking & tracking container untuk emkl melalui platform eLOGI Depologi sangat diperlukan. Dengan fitur online booking dan pelacakan posisi kontainer secara akurat, EMKL dapat menjadwalkan armada dengan tepat waktu (Just-in-Time), menghapus antrean berhari-hari di jalan raya, serta mengembalikan produktivitas ritase armada trucking.

Kesimpulan

Peringatan ALFI terkait ancaman stagnasi Pelabuhan Tanjung Priok akibat kemacetan depo empty harus menjadi alarm bagi seluruh stakeholder logistik nasional. Tantangan ketidakseimbangan neraca perdagangan memang tidak bisa dihindari, namun efisiensi rantai pasok sepenuhnya dapat dikendalikan melalui kolaborasi kebijakan infrastruktur dan adopsi teknologi.

Dengan menerapkan sistem manajemen depo digital (DMS) dan platform reservasi kontainer yang terintegrasi untuk EMKL, ekosistem logistik Indonesia dapat bergerak lebih cepat, transparan, dan bebas dari jebakan kemacetan.

Share this content: