Industri logistik nasional diproyeksikan memasuki fase penting pada 2026, seiring dengan meningkatnya aktivitas distribusi barang, pertumbuhan pusat ekonomi baru, serta tuntutan efisiensi yang semakin tinggi. Di tengah peluang besar tersebut, tantangan struktural masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dibenahi secara menyeluruh.
Sejumlah pelaku industri menilai bahwa kesiapan logistik Indonesia menuju 2026 tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga oleh kesiapan sistem operasional yang menopang aktivitas harian di lapangan.
Peluang Pertumbuhan Logistik Nasional
Pertumbuhan konsumsi domestik, ekspansi industri, serta konektivitas antar wilayah diperkirakan akan terus mendorong permintaan jasa logistik. Aktivitas distribusi antar pulau dan pergerakan barang melalui pelabuhan diprediksi meningkat seiring berkembangnya kawasan industri dan perdagangan regional.
Kondisi ini membuka peluang besar bagi pelaku logistik untuk meningkatkan kapasitas dan memperluas layanan. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan secara optimal jika efisiensi operasional dapat dijaga.
Tantangan Biaya Logistik Masih Jadi Sorotan
Di sisi lain, tingginya biaya logistik masih menjadi tantangan utama. Berbagai studi menunjukkan bahwa inefisiensi operasional, waktu tunggu, serta koordinasi yang belum optimal antar fasilitas logistik berkontribusi terhadap tingginya biaya distribusi barang.
Dalam praktiknya, tantangan ini sering kali muncul di titik-titik operasional seperti pelabuhan, depo kontainer, dan jalur distribusi darat. Tanpa perbaikan menyeluruh, lonjakan aktivitas justru berpotensi memperbesar beban biaya logistik.
Pandangan Fadil Shahab Soal Kesiapan Logistik 2026
CEO eLOGI Global International, Fadil Shahab, menilai bahwa tantangan logistik Indonesia menuju 2026 tidak bisa diselesaikan hanya dengan peningkatan infrastruktur atau pengembangan sumber daya manusia.

Menurutnya, banyak proses logistik yang masih berjalan tanpa dukungan sistem yang memadai. Hal ini menyebabkan pengambilan keputusan operasional sering kali tidak berbasis data aktual.
“Penguatan SDM logistik sangat penting, tetapi tanpa sistem yang mendukung, efisiensi sulit dicapai secara konsisten. Sistem operasional harus menjadi fondasi agar aktivitas logistik berjalan lebih terukur,” ujar Fadil Shahab.
Peran Sistem Pengelolaan Depo dalam Rantai Logistik
Salah satu titik krusial dalam rantai logistik nasional adalah depo kontainer. Fasilitas ini berperan sebagai penyangga utama arus barang, terutama untuk distribusi domestik dan intersuler.
Fadil Shahab menekankan bahwa pengelolaan depo yang belum terstandarisasi dan minim visibilitas data kerap menjadi sumber inefisiensi yang tidak disadari.
“Tanpa sistem yang terintegrasi, depo akan sulit mengelola lonjakan aktivitas. Padahal, efisiensi di level depo sangat berpengaruh terhadap kelancaran logistik secara keseluruhan,” katanya.
Digitalisasi Sistem Jadi Kebutuhan, Bukan Pilihan
Menurut pandangan pelaku industri, digitalisasi sistem logistik perlu dipandang sebagai kebutuhan dasar, bukan lagi sekadar opsi tambahan. Sistem yang mampu memberikan data real-time akan membantu pengelola fasilitas logistik dalam mengambil keputusan yang lebih cepat dan akurat.
Dalam konteks ini, solusi Depot Management System (DMS) dinilai menjadi salah satu elemen penting untuk meningkatkan keteraturan dan transparansi operasional depo kontainer.
eLOGI Dorong Transformasi Sistem Logistik
Sebagai perusahaan teknologi logistik, eLOGI Global International mendorong penerapan sistem pengelolaan depo berbasis digital untuk membantu pelaku industri meningkatkan efisiensi operasional.
Melalui solusi Depot Management System, eLOGI berupaya mendukung pengelolaan depo yang lebih terstruktur, terukur, dan adaptif terhadap lonjakan aktivitas logistik.
👉 Informasi lebih lanjut mengenai sistem ini dapat diakses melalui halaman resmi layanan eLOGI di
External Link: https://elogi.id/layanan/dms
Sinergi Infrastruktur, SDM, dan Sistem Menuju 2026
Pelaku industri sepakat bahwa kesiapan logistik nasional menuju 2026 membutuhkan sinergi antara infrastruktur, SDM, dan sistem operasional. Ketiganya harus berjalan beriringan agar peluang pertumbuhan dapat dimanfaatkan tanpa menambah beban biaya.
Analisis dan wawasan seputar transformasi logistik nasional juga dapat dibaca melalui kanal logistik di
Internal Link: https://elogi.blog/logistik
Kesimpulan
Menuju 2026, logistik nasional dihadapkan pada peluang pertumbuhan yang besar sekaligus tantangan efisiensi yang kompleks. Pandangan pelaku industri, termasuk Fadil Shahab, menunjukkan bahwa perbaikan sistem operasional menjadi salah satu kunci penting dalam menjawab tantangan tersebut.
Dengan pendekatan yang lebih sistemik dan berbasis data, logistik Indonesia diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.



Melihat Peluang dan Tantangan Logistik Nasional Menuju 2026